Makassar – Data BPS menunjukkan inflasi kota Makassar terbilang stabil di kisaran minus 0.41% hingga 2.19% selama periode Maret-Agustus 2025, satu komoditas dapur justru bikin pusing yaitu bawang merah. Harganya naik-turun bak roller coaster, bahkan sempat anjlok hingga minus 17,43% di bulan Mei, lalu meroket kembali hingga 13,86% di Agustus.

Analisis data BPS menunjukkan kontras yang mencolok. Saat inflasi resmi Makassar tercatat -0,41% pada periode April-Mei, harga bawang merah justru anjlok -17,43%. Sebaliknya, ketika inflasi naik tipis menjadi 0,59% di periode Juni-Juli, bawang merah meroket 10,36%. Pola serupa terulang hingga Agustus dengan kenaikan bawang merah 13,86%, sementara inflasi resmi malah turun ke -0,03%.
Ketimpangan ini terjadi karena inflasi resmi mengukur rata-rata perubahan harga ratusan komoditas dari beras, telur, daging, hingga tarif transportasi dan listrik. Sementara bagi masyarakat yang berbelanja harian, fluktuasi harga bawang merah sebagai bumbu dapur wajib langsung terasa di kantong.
Harga bawang merah per kilogram di Makassar tercatat Rp36.976 pada Maret, turun drastis ke Rp34.301 di Mei, lalu melonjak kembali hingga Rp48.360 pada Agustus. Sementara itu, data lapangan dari pasar tradisional Makassar menunjukkan harga ecer bahkan mencapai Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.

Lonjakan harga dari Rp34.301 (Mei) ke Rp48.360 (Agustus)—kenaikan sekitar Rp14.000 dalam tiga bulan—berdampak langsung pada anggaran belanja harian keluarga menengah ke bawah. Untuk pembelian setengah kilogram saja, selisih biaya mencapai Rp7.000, angka yang signifikan bagi keluarga dengan anggaran belanja harian terbatas. Fluktuasi ini juga mempersulit perencanaan anggaran belanja bulanan, karena harga yang tidak stabil membuat sulit memprediksi berapa alokasi dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan dapur.
Data dari lapangan pasar tradisional Makassar menunjukkan ketimpangan harga yang signifikan. Pedagang kebutuhan campuran seperti Indah kepada kabarmakassar.com melaporkan bahwa kenaikan tertinggi di kiosnya terletak pada komoditi bawang merah yang tembus hingga Rp60.000 per kilogram, sementara bawang putih dipatok lebih rendah untuk satu kilogramnya yakni Rp40.000. Fenomena harga bawang putih yang lebih murah dari bawang merah menjadi salah satu indikator tidak normalnya fluktuasi harga bawang merah selama periode ini.
Menurut analisis ekonom, fluktuasi ekstrem harga bawang merah tidak bisa dijelaskan hanya dari faktor musim panen. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai deflasi Mei 2025 justru menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat, bukan melimpahnya pasokan.
“Bahkan untuk kebutuhan pokok seperti ikan dan ayam, harga turun. Ini menandakan permintaan yang lemah,” jelasnya kepada Kompas.com
Kondisi ini menciptakan paradoks saat harga turun drastis di Mei, konsumsi tidak meningkat signifikan karena daya beli memang lemah. Namun ketika harga kembali naik di bulan-bulan berikutnya, masyarakat terpaksa tetap membeli karena bawang merah adalah kebutuhan dapur yang sulit disubstitusi.
Data BPS menunjukkan bawang merah menjadi salah satu penyumbang volatilitas harga pangan di ratusan daerah di Indonesia, termasuk Makassar. Pola fluktuasi yang tidak sejalan dengan inflasi umum mengindikasikan perlunya perhatian khusus dalam stabilisasi harga komoditas strategis ini, baik melalui penguatan rantai distribusi maupun pengelolaan stok penyangga yang lebih efektif.










