
Fenomena
Sore itu, Y, mahasiswi 21 tahun, bersama teman-temannya pergi ke sebuah coffee shop di Makassar. Sebelum menyentuh makanannya, ia lebih dulu sibuk memindahkan gelas, mengatur sudut meja, dan memilih spot terbaik di dekat jendela. Cekrek. Filter dipilih, caption diketik, lalu diunggah ke Instagram Stories. Baginya, momen itu memang harus diabadikan, bukan semata untuk kenangan, tetapi karena itulah bagian dari pengalaman itu sendiri. Jika tidak diposting, rasanya ada yang kurang.
Pengalaman seperti ini bukan milik satu orang. Per Oktober 2025, Indonesia memiliki sekitar 180 juta pengguna media sosial, setara dengan 62,9 persen dari total populasi. Sebuah laporan juga mencatat bahwa 76 persen warga Indonesia mengaku membeli produk setelah melihatnya dipromosikan oleh influencer, angka tertinggi di Asia Tenggara (CNBC Indonesia). Ini bukan sekadar soal belanja, tetapi tentang bagaimana konten yang terlihat di layar membentuk apa yang dianggap normal dan layak ditampilkan.

Fenomena ini memiliki nama: flexing. Namun, flexing kini telah bergeser dari sekadar memamerkan barang mewah. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti secangkir kopi di kedai estetik, foto di sudut instagrammable, unggahan saat menonton konser, hingga laptop yang terbuka di meja kerja yang rapi. Semua itu menjadi bahasa visual yang menyampaikan satu hal: ini saya, dan saya ada di sini.
Bagaimana Flexing Terjadi
Di balik setiap unggahan yang viral, ada sistem yang bekerja secara diam-diam. Algoritma Instagram dan TikTok dirancang untuk memaksimalkan engagement. Konten yang estetik dan aspirasional memiliki peluang lebih besar untuk diperkuat dan disebarkan. Bukan karena platform secara langsung mendorong budaya flexing, tetapi karena secara struktural, jenis konten inilah yang paling “menguntungkan” bagi sistemnya. Menurut jurnal Dampak Tren Influencer terhadap Citra Diri dan Perilaku Konsumtif (2022), algoritma media sosial mempercepat penyebaran tren lifestyle sekaligus mendorong perilaku konsumtif.
Paparan konten yang konsisten tidak hanya mengubah cara seseorang melihat dunia, tetapi juga cara mereka berpartisipasi di dalamnya. A, freelancer sekaligus mahasiswa berusia 23 tahun, mengaku pernah sengaja mendatangi coffee shop yang viral setelah melihatnya berulang kali di media sosial. “Kayak tempat makan yang viral, kadang mau juga coba,” katanya.
Ketika sebagian besar orang di timeline melakukan hal yang sama—memfoto makanan, mengabadikan momen estetik, atau mengunggah rutinitas harian, batas antara ekspresi diri dan pertunjukan sosial menjadi semakin kabur. Apa yang dulu dianggap sebagai “pamer” perlahan kehilangan konotasi negatifnya. Inilah yang disebut sebagai normalisasi perilaku: ketika suatu tindakan diulang cukup sering oleh banyak orang, ia berhenti dipertanyakan.
Bentuk-bentuk Flexing
Bentuk flexing yang paling mudah dikenali adalah yang bersifat material, seperti kendaraan mewah, gadget terbaru, atau koleksi barang bermerek. Di feed Instagram @johnvllnv, deretan motor dan mobil sport mendominasi unggahan hariannya. Konten seperti ini paling mudah diidentifikasi sebagai pamer, dan karena itu, paling mudah pula dikritik.
Namun, bentuk yang lebih menarik justru yang tidak terasa seperti flexing sama sekali. Aktivitas olahraga premium seperti padel, pilates, atau gym estetik, tidak lagi sekadar soal kesehatan, tetapi juga menjadi penanda identitas sosial. Foto di lapangan padel dengan outfit yang serasi dan perlengkapan tertentu menyampaikan lebih dari sekadar aktivitas, tetapi juga tentang gaya hidup. N, mahasiswa 20 tahun, mengakui hal ini saat membahas unggahan konsernya. “Demi kesehatan, akan saya pamerkan,” katanya. Pernyataan yang terdengar santai, tetapi menunjukkan adanya ambivalensi antara menikmati pengalaman dan kebutuhan untuk terlihat menikmati.

Yang paling jarang disadari justru adalah memamerkan produktivitas. Laptop di meja coffee shop, catatan rapi di sebelah minuman, hingga perangkat kerja yang tertata estetik telah menjadi template visual yang sangat familiar. Ia tidak terasa seperti pamer karena dikemas dalam narasi kerja keras. Namun pertanyaannya tetap sama, untuk siapa momen itu didokumentasikan? E, mahasiswi 21 tahun, mengaku bahwa ia “suka foto, tapi kalau take video pose yoga belum percaya diri, paling coffee shop dulu.”
Kenapa Ini Terjadi?
Ada alasan mendasar mengapa manusia mudah terjebak dalam lingkaran ini. Psikolog Leon Festinger, melalui teori perbandingan sosial (1954), menjelaskan bahwa manusia secara alami menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Di era pra-digital, perbandingan ini terbatas pada lingkungan sekitar. Media sosial mengubah skalanya secara drastic. Dalam satu kali scroll, seseorang bisa membandingkan dirinya dengan ratusan orang sekaligus, yang sebagian besar menampilkan versi terbaik dari kehidupannya. Penelitian di Journal of Communication (2020) menemukan intensitas penggunaan media sosial berkorelasi positif dengan meningkatnya frekuensi perbandingan sosial.
Sosiolog Erving Goffman menawarkan kerangka lain untuk memahami fenomena ini. Dalam teori dramaturginya, kehidupan sosial dianalogikan sebagai pertunjukan teater, di mana terdapat front stage sebagai ruang tampil di hadapan audiens, dan back stage sebagai ruang pribadi. Media sosial menjadi front stage yang sangat ideal, karena individu dapat mengatur bagaimana dirinya ingin dilihat. Penelitian tentang analisis self-presenting (2022) menemukan bahwa pengguna aktif media sosial cenderung menampilkan identitas yang dikonstruksi secara selektif. Apa yang ditampilkan bukan kebohongan, tetapi juga bukan keseluruhan kebenaran. Dalam konteks ini, flexing dapat dipahami sebagai bagian dari manajemen kesan yang sangat manusiawi.
Di titik inilah semua benang bertemu. Orang tidak hanya melakukan flexing karena ingin terlihat sukses, tetapi juga karena sedang menjawab pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa dirinya. Mahasiswa E mengakui bahwa dirinya sering membandingkan diri “dari segi apa pun, beauty, brain, behavior, maupun money,” namun tetap “kembali dengan kesadaran penuh kalau itu tidak healthy.” Kesadaran itu ada, tetapi dorongan untuk tetap terlihat ternyata tidak mudah dilawan.
Dampak Psikologis
Secara psikologis, paparan berkelanjutan terhadap konten aspirasional terbukti berkorelasi dengan menurunnya self-esteem dan meningkatnya kecemasan. Penelitian di Journal of Communication (2020) menunjukkan bahwa semakin intens seseorang melakukan perbandingan sosial, semakin besar kemungkinan mereka mengalami ketidakpuasan terhadap kehidupan sendiri. Ini bukan soal karakter yang lemah, melainkan bagaimana manusia merespons sistem yang memang dirancang untuk memancing perbandingan. Kajian tentang Fear of Missing Out (2023) juga menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO tinggi cenderung mengalami kecemasan sosial serta rasa tidak cukup yang berlangsung secara persisten.
Dalam konteks ini, dosen psikologi Universitas Hasanuddin, Aisyah Idlal Anwar, menjelaskan bahwa kecenderungan untuk menampilkan kehidupan di media sosial pada dasarnya masih merupakan hal yang wajar. Namun, persoalannya terletak pada intensi di baliknya.
“Kalau berbicara tentang flexing, biasanya berakar dari rasa ketidakpercayaan diri—keinginan untuk dipuji, dilihat ‘bagus’, atau dianggap mampu oleh orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, setelah seseorang mendapatkan validasi dari orang lain, akan muncul rasa puas dan bangga. Namun, kepuasan tersebut cenderung tidak bertahan lama.
“Ada kecenderungan untuk ingin mengulang lagi. Padahal, tidak selalu ada hal yang bisa dipublikasikan. Di titik ini, muncul dorongan untuk mencari atau bahkan membentuk sesuatu agar tetap bisa ditampilkan, meskipun kadang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan,” lanjutnya.
Ia menambahkan, dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menjadi bentuk pertahanan diri untuk membangun citra tertentu di dunia maya.
Tekanan psikologis ini tidak berhenti pada ranah emosional, tetapi juga bergerak ke aspek ekonomi. Jurnal riset perilaku konsumtif Gen Z (2025) menunjukkan bahwa kelompok ini paling rentan terhadap pembelian impulsif yang dipicu oleh konten media sosial, terutama karena dorongan untuk mempertahankan citra sosial.
Fitur seperti PayLater dan cicilan instan kemudian menjadi jembatan antara realitas finansial dan tampilan yang ingin diproyeksikan. Membeli sekarang, membayar nanti, tetapi tetap terlihat mampu hari ini. Penelitian tentang dampak influencer (2022) juga mencatat bahwa strategi pemasaran berbasis urgensi dan eksklusivitas terbukti efektif mendorong perilaku konsumtif di kalangan audiens muda.
Mungkin dampak yang paling berbahaya justru yang paling tidak terasa: kaburnya batas antara realita dan representasi. A menggambarkannya dengan sederhana, konten yang ia konsumsi “selalu tentang pencapaian dan kebahagiaan”, bukan karena orang-orang tersebut tidak pernah gagal, tetapi karena kegagalan jarang diunggah. Yang tersisa di layar hanyalah potongan terbaik. Dan potongan itulah yang perlahan menjadi standar.
Perspektif Lain
Namun, narasi tentang flexing tidak sepenuhnya hitam. Bagi sebagian orang, menampilkan pencapaian di media sosial adalah ekspresi diri yang sah, bahkan berdampak positif. Konten gaya hidup juga dapat menjadi bagian dari personal branding yang membuka peluang dan memperluas jejaring. E mengakui, “Ada yang lebih ajak hidup sehat, ada yang mendorong hidup boros, jadi fifty-fifty.” Pandangan ini menunjukkan bahwa dampak yang muncul sangat bergantung pada cara seseorang memaknai konten tersebut.
Di sisi lain, ada pertanyaan yang jarang diajukan: siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari fenomena ini? Bukan hanya individu yang mengunggah atau yang menonton, tetapi juga platform dan brand yang memonetisasi perhatian keduanya. Penelitian dalam Jurnal e-Bisnis (2022) menunjukkan bahwa strategi pemasaran dalam konten gaya hidup sering kali dirancang untuk mengaburkan batas antara ekspresi personal dan promosi komersial.
Mahasiswa A juga melihatnya dari sudut pandang yang lebih reflektif. “Tergantung bagaimana kita menerima dan cara pandangnya. Kalau dipakai untuk membandingkan diri, pasti jadi negatif. Tapi kalau dipandang dari arah berbeda, bisa positif.” Pada akhirnya, persoalannya bukan semata apakah flexing itu benar atau salah, melainkan bagaimana individu memposisikan dirinya di dalam sistem tersebut.
Penutup
Mahasiwi Y akhirnya menghabiskan kopinya dalam diam setelah selesai mengunggah. Tidak ada yang istimewa dari rasanya, katanya. Namun, unggahannya sudah mendapat dua puluh likes sebelum gelasnya kosong. Ia tersenyum kecil, bukan karena puas dengan kopinya, tapi karena merasa sudah ada di tempat yang tepat, setidaknya di mata orang-orang yang melihat Stories-nya.
Media sosial tidak menciptakan kebutuhan manusia untuk diakui atau dibandingkan. Kebutuhan itu sudah ada jauh sebelum media sosial hadir. Yang berubah hanyalah skalanya dan kecepatan umpan baliknya. Di dunia di mana satu unggahan bisa mendapat validasi dalam hitungan detik, pertanyaannya mungkin bukan lagi ‘kenapa kita ingin terlihat mampu?’ melainkan:
Apakah kita sedang menjadi diri sendiri, atau sedang membentuk versi diri yang kita kira ingin dilihat orang lain?






