Di atas peta digital, Kota Makassar terlihat terus berkembang. Jalan utama melebar, kawasan permukiman meluas, pusat bisnis bertambah, dan kendaraan memenuhi jalur-jalur strategis kota. Namun dari balik geliat pembangunan itu, ada persoalan yang kerap tak terlihat secara kasat mata: kualitas udara yang terus menurun dan ruang hidup warga yang semakin dekat dengan sumber emisi kendaraan bermotor.
Investigasi sederhana menggunakan citra satelit Google Earth, pantauan Google Maps Traffic, serta data historis kualitas udara menunjukkan bahwa sebagian wilayah Makassar menghadapi tekanan lingkungan serius. Permukiman padat berdempetan dengan koridor jalan besar, vegetasi minim, lalu lintas padat berlangsung hampir setiap hari, sementara konsentrasi polutan halus PM2.5 masih berada jauh di atas standar aman kesehatan dunia.
Tiga Jalan Besar, Tiga Potret Paparan Polusi
Fokus pemetaan dilakukan pada tiga ruas jalan utama yang menjadi nadi mobilitas Kota Makassar: Jalan A.P. Pettarani, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Perintis Kemerdekaan. Ketiganya dikenal sebagai jalur padat kendaraan pribadi, angkutan umum, logistik, dan akses menuju kawasan ekonomi maupun pendidikan.
Jalan A.P. Pettarani: Koridor Beton Minim Ruang Hijau
Dari hasil pengukuran berbasis Google Earth, rumah warga di sekitar Jalan A.P. Pettarani rata-rata berjarak sekitar 80 meter dari jalan utama. Jarak ini tampak aman di atas kertas, tetapi dalam studi pencemaran udara perkotaan, partikel polusi dari kendaraan masih dapat menyebar ratusan meter dari sumber emisi, terutama pada wilayah dengan sirkulasi udara buruk dan dominasi permukaan beton.
Dari citra udara, kawasan ini menunjukkan dominasi bangunan padat, ruko, jalan berlapis aspal, dan area parkir. Ruang vegetasi teridentifikasi sangat minim. Padahal pepohonan kota berfungsi sebagai penyerap polutan, peneduh suhu mikro, sekaligus penahan debu.
Ketika pohon berkurang dan kendaraan bertambah, udara panas bercampur asap knalpot menjadi situasi harian warga.
Jalan Urip Sumoharjo: Rumah Menempel pada Jalur Padat
Di koridor Jalan Urip Sumoharjo, jarak rumah warga ke jalan utama bahkan berkisar 10 hingga 60 meter. Artinya, sebagian warga tinggal sangat dekat dengan lalu lintas padat. Paparan emisi kendaraan pada jarak sedekat ini berisiko lebih tinggi terhadap kesehatan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita asma.
Wilayah ini juga memperlihatkan keterbatasan ruang hijau. Permukiman, toko, fasilitas umum, dan jalan raya membentuk kawasan urban yang padat. Ketika jam sibuk pagi dan sore tiba, kemacetan menjadi sumber emisi bergerak yang konstan.
Jalan Perintis Kemerdekaan: Padat Penduduk, Padat Kendaraan
Koridor Jalan Perintis Kemerdekaan merupakan salah satu jalur terpanjang dan tersibuk di Makassar. Berdasarkan pemetaan, rumah warga berada pada jarak 10 hingga 120 meter dari jalan utama. Kawasan sekitar Unhas, Perintis Daya, dan Sudiang terlihat sangat padat penduduk, sementara ruang vegetasi relatif terbatas.
Jalur ini menjadi akses menuju bandara, kampus, pusat perdagangan, hingga wilayah pinggiran kota. Kombinasi kendaraan pribadi, truk logistik, bus, dan sepeda motor menjadikan koridor ini salah satu penyumbang polusi transportasi penting di Makassar.
Kemacetan yang Menjadi Mesin Polusi
Pantauan Google Maps Traffic pada tiga ruas jalan tersebut memperlihatkan kepadatan lalu lintas rutin. Warna merah dan oranye pada peta digital menandakan kecepatan kendaraan melambat atau macet, terutama pada jam berangkat kerja, pulang kantor, dan akhir pekan.
Kemacetan bukan sekadar persoalan waktu tempuh. Saat kendaraan berhenti, merayap, lalu kembali bergerak, pembakaran bahan bakar menjadi tidak efisien. Emisi karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), dan partikulat halus meningkat.
Menurut World Health Organization, polusi udara ambien menjadi salah satu risiko kesehatan lingkungan terbesar di dunia dan berkaitan dengan penyakit jantung, stroke, kanker paru, serta infeksi saluran pernapasan.
Data PM2.5: Lima Tahun Belum Pulih
Temuan paling penting di kutip dari Indeks Kualitas Udara (AQI) data historis kualitas udara Makassar selama lima tahun terakhir. Konsentrasi PM2.5—partikel halus berukuran 2,5 mikrometer yang mampu masuk hingga paru-paru dan aliran darah—menunjukkan tren yang belum stabil dan tetap melebihi ambang aman WHO.
Rangkuman data:
| Tahun | PM2.5 Tahunan | Kondisi |
| 2021 | ±17 µg/m³ | 3,4 kali di atas batas WHO |
| 2022 | ±19 µg/m³ | Memburuk |
| 2023 | ±16 µg/m³ | Sedikit membaik |
| 2024 | ±18 µg/m³ | Naik lagi |
| 2025 | ±20 µg/m³ (indikatif) | Terburuk lima tahun terakhir |
Sebagai pembanding, pedoman tahunan WHO menetapkan batas PM2.5 rata-rata sebesar 5 µg/m³. Itu berarti udara Makassar dalam periode tersebut berkisar tiga hingga empat kali lebih buruk dari rekomendasi kesehatan global.
Data ini menunjukkan bahwa penurunan sesaat pada 2023 tidak berlanjut. Pada 2024 dan 2025, polusi kembali meningkat.
Kenapa Makassar Sulit Bernapas?
Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab utama:
1. Pertumbuhan Kendaraan Bermotor
Data nasional dari Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Kota besar seperti Makassar ikut merasakan lonjakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil.
Semakin banyak kendaraan berarti semakin besar emisi, terutama bila transportasi publik belum cukup efisien.
2. Tata Kota yang Tidak Ramah Udara
Banyak kawasan permukiman berkembang terlalu dekat dengan jalan arteri utama. Rumah, sekolah, warung, dan tempat ibadah berdiri hanya puluhan meter dari lalu lintas padat.
Tanpa sabuk hijau atau buffer zone, warga langsung berhadapan dengan sumber polusi.
3. Minim Vegetasi Kota
Pepohonan mampu menangkap debu dan membantu menurunkan suhu. Namun pada banyak koridor utama Makassar, ruang hijau kalah oleh betonisasi, pelebaran jalan, dan pembangunan komersial.
4. Musim Kering dan Cuaca Panas
Saat curah hujan rendah, partikel polutan lebih lama menggantung di udara. Kondisi panas juga memperburuk pembentukan ozon permukaan yang mengiritasi saluran napas.
Warga yang Menanggung Biaya Kesehatan
Dampak polusi tidak dibayar oleh kendaraan, melainkan oleh warga. Anak-anak yang batuk berulang, lansia dengan sesak napas, pekerja jalanan yang terpapar sepanjang hari, hingga keluarga yang tinggal tepat di tepi jalan raya.
Menurut UN Environment Programme, polusi udara juga memperburuk ketimpangan sosial karena kelompok berpenghasilan rendah sering tinggal di area dengan kualitas lingkungan lebih buruk.
Di Makassar, pola itu tampak pada permukiman padat di sekitar jalan utama.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Masalah ini bukan tanpa solusi. Beberapa langkah yang dapat ditempuh pemerintah kota:
1. Tambah Transportasi Publik yang Nyaman
Jika warga punya alternatif yang cepat dan aman, ketergantungan pada kendaraan pribadi dapat berkurang.
2. Bangun Jalur Hijau Koridor Jalan
Penanaman pohon rindang di ruas utama bukan sekadar estetika, tetapi infrastruktur kesehatan.
3. Monitoring Udara Real-Time
Stasiun pemantauan kualitas udara yang terbuka ke publik penting agar warga tahu kondisi udara harian.
4. Tata Ruang Berbasis Kesehatan
Permukiman baru seharusnya tidak dibangun terlalu dekat dengan sumber emisi berat tanpa perlindungan vegetasi.
5. Uji Emisi dan Kendaraan Bersih
Pengawasan kendaraan tua dan berasap perlu diperketat.
Kota yang Modern Harus Bisa Dihirup
Makassar sedang tumbuh menjadi kota metropolitan timur Indonesia. Jalan bertambah, gedung bertambah, pusat ekonomi bertambah. Namun jika udara justru memburuk, maka pertumbuhan itu menyisakan paradoks.
Pembangunan seharusnya membuat hidup lebih sehat, bukan sebaliknya.
Dari peta digital, data lalu lintas, dan angka PM2.5 lima tahun terakhir, terlihat jelas satu pesan: warga Makassar hidup semakin dekat dengan sumber polusi, sementara udara bersih belum menjadi prioritas utama.
Kota modern bukan hanya tentang flyover, mal, dan gedung tinggi. Kota modern adalah kota yang udaranya masih layak dihirup oleh anak-anak yang tumbuh di dalamnya.










