Dari Kelas Menjadi Studio

Edukasi Cuci Tangan ala "Penyiar Cilik" di Pao-Pao

Uncategorized53 Dilihat

Barru— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKNPK) Universitas Hasanuddin Angkatan 69 Posko Desa Pao-Pao melaksanakan program edukasi kesehatan bertajuk “SI CIKO Sehat” (Siaran Cilik Komunitas Sehat) di ruang kelas 5 MI At-Taufiq, Dusun Maralleng, Desa Pao-Pao, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, pada Senin, 20 Juli 2026. Melalui program ini, siswa dilibatkan secara langsung sebagai “penyiar cilik” yang menyampaikan pesan-pesan kesehatan melalui simulasi siaran podcast.

Program ini digagas oleh Wulan Purnamasari, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas yang tergabung dalam kelompok KKN Profesi Kesehatan Posko Desa Pao-Pao. Pertemuan dua bidang keilmuan yang berbeda, komunikasi dan kesehatan masyarakat, justru melahirkan pendekatan edukasi yang lebih segar, dengan menempatkan strategi komunikasi sebagai kunci agar pesan kesehatan lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Ketika Komunikasi Bertemu Kesehatan

Dengan latar belakang penjurusan penyiaran (broadcasting), pendekatan yang digunakan tidak lagi berupa penyuluhan satu arah yang kerap dianggap membosankan oleh anak-anak. Materi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), justru dikemas melalui simulasi siaran podcast interaktif. Anak-anak tidak ditempatkan sebagai pendengar pasif, melainkan didorong menjadi penyampai pesan itu sendiri. Sebuah strategi komunikasi partisipatif yang mengubah posisi audiens menjadi komunikator aktif.

Prinsip inilah yang menjadi unsur komunikasi paling menonjol dari kegiatan tersebut: pesan kesehatan tidak sekadar disampaikan, tetapi diperankan langsung oleh penerima pesan, sehingga informasi berlangsung lebih kuat dan berkesan.

Dari Pre-Test hingga Siaran Perdana

Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk memetakan pemahaman awal siswa tentang kebiasaan hidup bersih sekaligus pengenalan dasar dunia penyiaran. Siswa kemudian dibekali teknik-teknik dasar public speaking, mulai dari artikulasi yang jelas, intonasi yang dinamis, hingga metode pernapasan kotak (box breathing 4-4-4-4) untuk mengatasi demam panggung.

Setelah dibekali kepercayaan diri berbicara di depan umum, materi CTPS pun disisipkan ke dalam naskah siaran. Puncaknya, para siswa tampil bergantian sebagai “penyiar cilik”, mengudarakan pesan kebersihan sembari menyerukan jargon khas: “Tangan bersih, kuman pergi!”

Kegiatan ditutup dengan sesi post-test. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap materi CTPS, sekaligus tumbuhnya rasa percaya diri mereka untuk tampil dan berbicara di depan umum. Bukti bahwa pendekatan komunikasi kreatif mampu menjadi jembatan efektif antara edukasi kesehatan dan dunia anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed