Patriarki: Sistem yang Katanya ‘Untungin Laki-laki’, Tapi Kenapa Mereka Juga Terjebak?

Berita, Feature126 Dilihat
Cuplikan konten TikTok di akun @KutipanX yang menampilkan beragam pandangan tentang ekspresi emosi laki-laki.

Di sebuah kafe di kawasan Panakkukang, Makassar, seorang pria berusia dua puluhan duduk sendirian. Matanya sembap, tangannya gemetar memegang ponsel. Di layar, sebuah video TikTok dari akun @kutipanX sedang memutar wawancara singkat tentang sebuah pertanyaan klasik yang tak pernah benar-benar usang: “Cowok enggak boleh nangis, setuju enggak?”

Jawaban yang muncul di video itu pun beragam. Ada yang dengan tegas menjawab, “Setuju, karena cowok itu harus kuat, ya!”. Di segmen lain, seorang pria berbeda berpendapat bahwa menangis bagi laki-laki adalah hal yang “alay”. Baginya, laki-laki seharusnya berdiri di atas pondasi logika, bukan perasaan. Di bawahnya, kolom komentar riuh. Seorang netizen bernama Wisnu Angga menulis, “Heh cowo masa cengeng si!!!!”.

Kalimat pendek itu, meski diketik dengan jempol yang santai, adalah cermin dari tembok besar yang mengurung jutaan laki-laki: Patriarki. Selama ini, patriarki digambarkan sebagai karpet merah bagi laki-laki – sebuah sistem yang memberikan mereka kursi kepemimpinan, kendali ekonomi, dan kuasa politik. Namun, jarang ada yang berani bertanya: berapa harga yang harus dibayar laki-laki untuk semua privilese itu?

Biaya di Balik Hak Istimewa

Dosen Sosiologi Universitas Hasanuddin, Atma Ras, menyebut fenomena ini sebagai the cost of privilege. Biaya sosial dari sebuah hak istimewa. Menurutnya, keuntungan struktural yang dimiliki laki-laki tidak datang secara gratis.

“Dalam institusi keluarga, laki-laki memperoleh legitimasi sebagai kepala keluarga, namun sekaligus dibebani tanggung jawab ekonomi yang berat. Di ranah budaya, mereka dianggap kuat, tapi harus menekan ekspresi emosi dan kerentanan,” jelas Atma.

Inilah paradoksnya. Patriarki menciptakan posisi “di atas” bagi laki-laki, namun posisi itu sekaligus menjadi penjara. Mereka dilarang jatuh, dilarang gagal, dan yang paling menyakitkan: mereka didisiplinkan untuk menolak kerentanan mereka sendiri.

Bagi banyak laki-laki, menahan air mata bukan karena mereka tidak punya rasa, melainkan karena lingkungan yang tidak menyediakan ruang aman. F (20), seorang mahasiswa di Makassar, mengakui bahwa ia sering kali menyembunyikan kesedihannya di balik tawa.

“Jujur, sering [ingin menangis], tapi takut dianggap lebay. Jadi saya cenderung jadikan bahan bercanda saja, bahkan untuk momen yang sedih sekalipun,” ungkap F.

Ia menambahkan bahwa ketakutannya bersumber dari realitas di sekitarnya. “Kalau ada laki-laki yang mewek (menangis), biasanya diketawakan atau dijadikan bahan ejekan. Saya takut hal yang sama terjadi ke saya.”

Senada dengan F, I (22) memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Baginya, ada tekanan untuk menjaga citra diri. “Ada gengsi alias menjaga citra diri. Rasanya ada tekanan tersendiri kalau bercerita sama orang lain, bahkan orang terdekat sekalipun,” jelasnya.

Laki-laki Mendominasi Kasus Bunuh Diri, Tekanan Maskulinitas Jadi Sorotan

Infografik data kasus bunuh diri di Indonesia periode Januari-Agustus 2024 berdasarkan aplikasi DORS SOPS Polri.

Dampak paling tragis dari beban patriarki ini terlihat pada angka kematian yang mengejutkan. Data dari Pusiknas Polri (Januari – Agustus 2024) menunjukkan realitas kelam: dari total 928 kasus bunuh diri di Indonesia, 79,64 persen atau sebanyak 714 pelakunya adalah laki-laki.

Angka ini bukan anomali. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa meskipun perempuan lebih banyak terdiagnosis depresi secara klinis, angka kematian akibat bunuh diri pada laki-laki secara global tiga hingga empat kali lebih tinggi dibanding perempuan. Fenomena ini dikenal dalam literatur kesehatan mental sebagai the gender paradox of suicide – paradoks gender dalam perilaku bunuh diri.

Mengapa laki-laki yang secara kultural berada “di atas” justru paling banyak mengakhiri hidupnya? Pakar studi gender, Atma Ras menjelaskan hal ini melalui konsep Maskulinitas Hegemoni dari R.W. Connell. Laki-laki didisiplinkan oleh norma untuk tidak boleh lemah dan tidak boleh gagal.

“Laki-laki memang ditempatkan sebagai kelompok dominan, tapi dominasi tersebut tidak bersifat bebas. Ia mensyaratkan kepatuhan terhadap standar tertentu,” ungkap Atma.

Temuan ini sejalan dengan hasil systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Psych tahun 2024. Penelitian tersebut menemukan bahwa norma maskulinitas tradisional seperti tuntutan untuk selalu mandiri, menekan emosi, dan menghindari kerentanan, berkorelasi dengan meningkatnya risiko perilaku bunuh diri pada laki-laki.

Namun, beban itu bukan hanya soal air mata, melainkan juga ekspektasi ekonomi yang mencekik. G (26) memberikan perspektif yang mendalam tentang bagaimana laki-laki memandang tanggung jawab ini. Bagi G, bercerita dianggap sebagai “drama” yang tidak menyelesaikan masalah. Namun, ia menyoroti satu titik krusial: dukungan mental.

“Sebenarnya yang buat laki-laki menyerah itu bukan soal cari nafkahnya, tapi pendorongnya (dukungannya). Kalau batin laki-laki sudah hancur, maka selesailah dunianya,” tutur G.

Mitos “Logika vs Perasaan”

Perspektif dari F, I, dan G menunjukkan bahwa “logika vs perasaan” bukanlah pilihan alami, melainkan hasil dari internalisasi norma yang memaksa mereka untuk selalu tampak tangguh. Laki-laki sering kali terjebak dalam Internalisasi Norma, di mana nilai-nilai luar diserap menjadi keyakinan pribadi yang mendarah daging.

“Proses ini disebut internalisasi norma. Individu secara tidak sadar ikut memproduksi sistem yang sebenarnya juga menekan dirinya. Inilah alasan mengapa banyak laki-laki tetap bertahan dalam patriarki bahkan ketika mereka mengalami tekanan di dalamnya,” tambah Atma.

Fenomena ini sering disebut sebagai Silent Epidemic – sebuah krisis di mana laki-laki lebih memilih memendam beban hingga titik nadir daripada melanggar norma maskulinitasnya. Kecenderungan ini diperkuat oleh laporan American Psychological Association (APA) yang menyebutkan bahwa norma maskulinitas tradisional membuat laki-laki memandang layanan kesehatan mental sebagai bentuk “kerentanan” yang memalukan. Alih-alih menggunakan logika untuk mencari solusi medis, banyak laki-laki justru terjebak dalam mekanisme pelarian yang destruktif karena takut dianggap kehilangan kejantanannya jika berani mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.

Menghancurkan Standar Semu

Menghancurkan patriarki tidak berarti memerangi laki-laki, melainkan meruntuhkan standar semu yang menyiksa semua gender. Seperti yang diungkapkan Atma Ras, patriarki adalah sistem yang hierarkis sekaligus disipliner. Ia menciptakan ketimpangan, namun juga menciptakan standar yang membatasi kemanusiaan semua pihak.

Mendobrak narasi “laki-laki enggak boleh nangis” adalah langkah awal untuk memberikan ruang bagi laki-laki agar bisa bernapas lebih lega. Kekuatan sejati seorang pria seharusnya tidak diukur dari seberapa keras ia membendung air matanya, melainkan dari keberaniannya untuk mengakui kerentanannya sebagai manusia seutuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *