Harmoni Ekologi Masyarakat Bugis Bagian 3

Bissu sebagai Penjaga Pengetahuan

Berita, Feature82 Dilihat

Pada bagian sebelumnya, serial ini menelusuri bagaimana masyarakat Bugis memaknai hubungan antara manusia dan alam melalui kosmologi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalu mappalili hubungan tersebut tidak hanya tercermin dalam praktik pertanian, tetapi juga dalam cara masyarakat memahami sawah, air, dan berbagai unsur lingkungan sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung.

Cara pandang itu hidup melalui ritual, pengetahuan lisan, serta pengalaman kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama berabad-abad, mappalili menjadi ruang tempat berbagai pengetahuan mengenai musim, pertanian, dan hubungan manusia dengan alam terus dipelihara dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Segeri.

Seperti banyak pengetahuan lokal lainnya, warisan tersebut tidak hidup dalam ruang yang sepenuhnya tetap. Perubahan sosial, pergeseran cara hidup, hingga perubahan pada lanskap lingkungan menghadirkan tantangan baru bagi keberlangsungan nilai-nilai yang selama ini diwariskan melalui mappalili. Pertanyaannya kini bukan lagi sekadar bagaimana ritual itu dijalankan, melainkan bagaimana pengetahuan dan cara pandang yang terkandung di dalamnya dapat terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Bertahan di Tengah Perubahan

Puang Wa’nani di Bola Arajang, Segeri. Di balik perannya sebagai pemimpin spiritual, perubahan zaman turut membawa tantangan baru bagi keberlangsungan tradisi yang ia jaga. (Foto: Dian Fakhirah/Tim Naravoria, 23 Mei 2026)

Meski terus diwariskan dari generasi ke generasi, mappalili tidak hidup dalam ruang yang sepenuhnya bebas dari perubahan. Seperti banyak tradisi lokal lainnya di Indonesia, ritual ini juga berhadapan dengan berbagai tantangan yang muncul seiring perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berlangsung di masyarakat.

Salah satu perubahan yang paling nyata terlihat pada lanskap pertanian di sekitar Segeri. Sejumlah lahan yang sebelumnya digunakan untuk bercocok tanam telah mengalami perubahan fungsi. Bagi komunitas yang selama berabad-abad menggantungkan kehidupan pada siklus pertanian, perubahan tersebut tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memengaruhi ruang tempat berbagai pengetahuan lokal diwariskan.

Perubahan itu turut dirasakan oleh komunitas Bissu. Puang Wa’nani mengaku sawah adat yang selama ini memiliki keterkaitan dengan kehidupan komunitas mereka juga mengalami perubahan.

“Maloang koro sawah adat na, tapi pada na alai masyaraka’e… idi puang matoae de yulle pusing,” (Luas sawah adatnya di sana, tetapi sekarang sudah diambil masyarakat… sebagai Puang Matoa saya tidak terlalu memusingkan hal tersebut), ujarnya.

Bagi kebanyakan masyarakat, perubahan itu mungkin hanya tampak sebagai perubahan fungsi lahan. Bagi komunitas Bissu, sawah bukan sekadar ruang produksi pertanian. Di dalamnya tersimpan berbagai pengetahuan, termasuk hubungan manusia dengan alam yang selama ini diwariskan melalui praktik kehidupan sehari-hari dan ritual adat.

Koleksi pribadi Puang Wa’nani, dokumentasi lawas komunitas Bissu Segeri yang masih disimpan hingga kini, menjadi pengingat akan jumlah penjaga tradisi yang dahulu lebih banyak dari sekarang. (Foto: Husain Fadhullah/Tim Naravoria, 23 Mei 2026)

Tantangan juga dirasakan dalam upaya menjaga keberlanjutan komunitas Bissu itu sendiri. Jika pada masa lalu para Bissu memegang peran penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bugis, kini ruang tersebut tidak lagi sebesar sebelumnya. Di tengah masyarakat yang terus berubah, tantangan terbesar bukan hanya menjaga keberlangsungan ritual, tetapi juga memastikan nilai dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap dipahami oleh generasi berikutnya.

Bissu Eka, salah satu generasi penerus komunitas Bissu Segeri, mengakui bahwa tanggung jawab tersebut tidak selalu mudah dijalankan. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia tetap berupaya mendampingi dan membantu para Bissu yang lebih tua.

“Saya sebagai regenerasi bekerja, terkadang saya bantu juga mereka walaupun saya juga kekurangan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberlangsungan mappalili tidak hanya bergantung pada pelaksanaan ritual setiap tahun. Di baliknya terdapat individu-individu yang berusaha menjaga pengetahuan, nilai, dan praktik budaya agar tetap hidup di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Puang Wa’nani mengakui bahwa hal tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi komunitas Bissu. Menurutnya, mappalili bukan sekadar prosesi tahunan yang diramaikan masyarakat, melainkan ruang tempat berbagai pengetahuan tentang alam, pertanian, dan kehidupan diwariskan. Ketika makna tersebut tidak lagi dipahami, yang tersisa dikhawatirkan hanyalah bentuk ritualnya semata.

Tantangan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh pengetahuan. Jika dahulu pemahaman mengenai hubungan manusia dengan alam diwariskan melalui pengalaman langsung serta tradisi lisan, kini generasi muda hidup dalam lingkungan yang menawarkan berbagai sumber pengetahuan baru. Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan ritual, melainkan menjaga agar nilai-nilai dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap memiliki makna bagi generasi yang hidup pada zaman yang berbeda.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, mappalili masih terus dilaksanakan setiap tahun. Warga tetap berkumpul, arajang tetap diarak mengelilingi wilayah adat, dan doa-doa tetap dipanjatkan menjelang musim tanam. Melalui keberlanjutan ritual tersebut, terdapat upaya yang lebih besar untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat tentang hubungan mereka dengan alam dan lingkungan tempat mereka hidup.

Menjaga Pengetahuan yang Menjaga Alam

Album foto dokumentasi pribadi milik Puang Wa’nani dari pelaksanaan mappalili di tahun-tahun sebelumnya. (Foto: Muh. Raihan/Tim Naravoria, 23 Mei 2026)

Menjelang sore, arak-arakan mappalili perlahan berakhir. Masyarakat yang sejak pagi mengikuti jalannya ritual mulai meninggalkan lokasi, sementara arajang kembali disimpan di rumah adat. Dari kejauhan, hamparan sawah Segeri tetap terbentang seperti biasa, menunggu musim tanam yang segera dimulai.

Bagi sebagian orang, mappalili mungkin tampak sebagai tradisi tahunan yang diwariskan dari masa lalu. Namun di balik prosesi tersebut tersimpan pengetahuan yang jauh lebih panjang usianya dibanding satu generasi manusia. Pengetahuan tentang membaca musim sebelum hadirnya prakiraan cuaca modern, tentang pentingnya menjaga air jauh sebelum krisis lingkungan menjadi perhatian global, serta tentang memahami sawah sebagai ruang hidup yang menopang berbagai bentuk kehidupan.

Selama berabad-abad, pengetahuan itu diwariskan melalui cerita, pengalaman, dan ritual yang mempertemukan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup. Ia tidak lahir dari ruang laboratorium ataupun lembar kebijakan, melainkan dari pengamatan panjang terhadap tanah, air, musim, dan berbagai perubahan alam yang terus diamati dari generasi ke generasi.

Melalui mappalili, masyarakat Segeri tidak hanya mewariskan tata cara bercocok tanam, tetapi juga cara memandang dunia. Sebuah pemahaman bahwa manusia tidak berdiri terpisah dari alam yang menopang kehidupannya. Bahwa keberhasilan panen bergantung pada keteraturan musim, bahwa sawah membutuhkan air yang terus dijaga, dan bahwa kehidupan manusia pada akhirnya terikat pada keseimbangan lingkungan tempat ia hidup.

Kesadaran semacam inilah yang oleh Prof. Muhlis Hadrawi dipandang sebagai inti hubungan masyarakat Bugis dengan alam. Menurutnya, berbagai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun masih memiliki relevansi yang kuat dalam menjaga dan memelihara lingkungan hingga hari ini.

“Alam ini adalah rumah kita. Ketika kita menjaganya dengan baik, maka tentu rumah kita itu terpelihara juga dengan baik. Tapi begitu juga sebaliknya, ketika rumah itu kita rusak, maka tempat kita berteduh juga rusak,” ujarnya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dan alam bukanlah hubungan yang terpisah. Apa yang dilakukan manusia terhadap lingkungan pada akhirnya akan kembali memengaruhi kehidupannya sendiri.

Di tengah perubahan iklim, tekanan terhadap lingkungan, dan perubahan sosial yang terus berlangsung, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika berbagai masyarakat di dunia mencari cara untuk hidup lebih selaras dengan alam, sebagian jawabannya sesungguhnya telah lama hidup dalam berbagai pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk melalui Mappalili di Segeri.

Ketika arajang kembali memasuki rumah adat dan keramaian perlahan mereda, yang tersisa bukan sekadar jejak sebuah ritual tahunan. Yang tetap hidup adalah upaya menjaga pengetahuan yang selama ini membantu masyarakat memahami hubungan mereka dengan tanah yang ditanami, air yang mengalir, dan musim yang terus berganti.

Sebab pada akhirnya, yang diwariskan melalui Mappalili bukan hanya sebuah tradisi. Ia adalah cara memahami bahwa masa depan manusia tidak pernah dapat dipisahkan dari masa depan alam tempat ia hidup.

Seperti yang diingatkan Prof. Muhlis, “ketika manusia menjaga alam, maka alam akan menjaga manusia.”

Di Segeri, keyakinan itu masih terus hidup—dituturkan dari generasi ke generasi, dijaga melalui ritual, dan diwariskan sebagai pengetahuan yang bukan hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga manusia yang hidup bersamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed