Fast Fashion: Tren Kekinian yang Memicu Budaya Konsumerisme

Opini & Resensi49 Dilihat
Sumber: www.climable.org/

Saat ini kita hidup di era teknologi yang sudah canggih dan bisa melakukan apa saja. Teknologi tersebut termasuk dalam pembuatan tekstil dan pakaian. Dikarenakan hal tersebut sekarang pakaian dapat dihasilkan dengan cepat, mengikuti tren terkini. Fenomena ini disebut dengan fast fashion.

Fast fashion sendiri adalah fenomena industri pakaian yang menawarkan tren fashion terkini dengan harga murah atau terjangkau dan cepat produksi. Terlebih lagi kita hidup di era digital, dimana masyarakat dengan mudah mengakses internet. Masyarakat dapat melihat berbagai fashion yang sedang tren, terkini, dan merek-merek yang popular. Melihat hal itu, produksi pakaian akan cepat bersilih ganti menyesuaikan perubahan tren.

Fast fashion yang mengikuti perubahan tren akhirnya menawarkan masyarakat produk-produk yang murah dan terjangkau, sehingga masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, teknologi dan media sosial sangat berpengaruh dalam fenomena fast fashion. Dengan teknologi yang canggih seperti handphone dan komputer, lalu sosial media yang juga berkembang menjadi lebih modern dan mudah diakses dimana-mana menjadi kombinasi yang sangat kuat dalam fenomena fast fashion ini.

Masyarakat dipermudahkan untuk melihat berbagai pakaian yang trendy dan mendorong keinginan untuk berbelanja online.

Munculnya fenomena fast fashion ini memberikan dampak yang serius pada ekonomi yang juga menjadi konsumerisme.

Fast fashion mendorong persaingan yang sengit, hal itu tentu saja berdampak pada penurunan harga pakaian karena para produsen akan berlomba-lomba memproduksi pakaian secara cepat dengan harga murah sehingga konsumen melirik produk mereka dengan cepat.

Hal tersebut mengarah ke standar yang lebih rendah, upah rendah, dan keberlanjutan ekonomi yang sulit. Selain itu, popularitas fast fashion memiliki dampak negatif pada bisnis lokal dan industri tekstil tradisional, karena konsumen lebih tertarik pada pakaian yang murah.

Fast fashion menumbuhkan rasa keinginan yang meluap-luap seperti air bak yang tak bisa dibendung untuk terus membeli pakaian karena tren yang berubah dengan cepat dan harga yang lebih murah, menciptakan siklus konsumsi yang berlebihan.

Saat ini, fashion dijadikan sebagai salah satu tanda status sosial seseorang. Biasanya orang menilai orang lain berdasarkan penampilannya terlebih dahulu, orang yang berpenampilan lebih rapih dan modis akan lebih dihargai. Itulah mengapa orang ingin tampil lebih modis dan mengikuti tren yang ada.

Maka dari itu budaya konsumtif tak luput menjadi akibat dari fast fashion. Seringkali orang-orang lebih mementingkan kepemilikan barang daripada kebutuhan, dan biasanya mereka akan membuang barang yang masih layak pakai karena sudah tidak jaman atau tidak tren lagi. Dengan harga yang murah dan iklan promosi yang agresif konsumen akan lebih mudah untuk melakukan pembelian impulsif dan menyebabkan masalah keuangan dan ketidakpuasan.

Dengan harga yang ditawarkan sangat murah, fast fashion membuat budaya konsumerisme semakin populer di kalangan masyarakat. Seringkali FOMO atau fear of missing out atau ketakutan akan ketinggalan tren/perkembangan terbaru juga menjadi pendorong yang kuat untuk seseorang membeli fast fashion karena seperti yang sudah yang disebutkan tadi bahwa fast fashion yang mengikuti perubahan tren. Karena FOMO, masyarakat rela membalikkan dunia agar tidak ketinggalan tren.

Dr. Kate Fletcher, akademisi yang fokus pada keberlanjutan fashion, menyebut bahwa fast fashion telah mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi lebih impulsif. “Ketersediaan pakaian murah dan baru setiap minggu membuat konsumen harus terus membeli untuk tetap relevan. Fast fashion adalah salah satu pemicu utama budaya konsumerisme yang tidak berkelanjutan.” Katanya.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan agar mencegah terjadinya konsumerisme yaitu petama, menerapkan capsule wardrobe, konsep berpakaian minimalis yang menekankan pada koleksi pakaian terbatas, multifungsi, dan mudah dipadupadankan untuk menciptakan berbagai gaya atau outfit sehingga pakaian dapat digunakan dalam jangka waktu panjang. Kedua, belilah pakaian sesuai kebutuhan, hindari membeli pakian hanya karena sedang tren. Ketiga, pilihlah pakaian yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi, bagus, dan tahan lama agar tidak perlu sering mengganti dengan yang baru dan dapat mengurangi konsumsi pakaian yang berlebihan.

Kesimpulan yang dapat kita ambil ialah fenomena fast fashion telah membawa pengaruh signifikan terhadap budaya konsumtif di masyarakat. Dengan kemajuan teknologi dan kemudahan akses media sosial, tren fashion berubah dengan cepat yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat untuk terus membeli pakaian dengan murah demi mengikuti perkembangan tren terkini.

Fast fashion juga melahirkan siklus konsumsi yang berlebihan akibat FOMO (fear of missing out), sehingga mendorong masyarakat membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Untuk mengatasi perilaku negatif ini, penting bagi kita untuk menerapkan gaya hidup yang lebih bijak dalam konsumsi pakaian, seperti konsep capsule wardrobe, membeli pakaian berkualitas tinggi, dan membatasi pembelian hanya pada kebutuhan.

Penulis: A Keysha Tenriola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed